2019 :: Home :: Buku tamu :: Webmail :: Sitemap :: The Team ::
Takalar Ta
Berita Daerah
DPRD Takalar
Studi Banding
Wirausaha
Ekonomi Syariah
Pustaka
Cuci Otak
Info Pasar
Opini
Demo
Beasiswa
Lowongan Kerja
Jaringan Web
Pengaduan
Takalar Angka
Takalar Peta

Contact Us
Redaksi
Kota Takalar

Email
redaksi@infotakalar.com

Telepon (Hunting)
Irsyadi 0812 4280001

Ekonomi Syariah

Mencermati 2007 sebagai Tahun Ekonomi Syariah
2019-08-19 01:29:17- Sumber: http://www.fajar.co.id - Di Baca 1384 Kali

Perkembangan Ekonomi Islam sejak 1992 yang ditandai berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) selanjutnya diikuti sejumlah bisnis islami lainnya, begitu signifikan dan secara terus-menerus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, baik secara kuantitas maupun secara kualitatif. Peningkatan yang signifikan itu mengantarkan para pelaku ekonomi Islam, baik praktisi maupun teoritisi bertekad menjadikan 2007 ini sebagai tahun Berhijrah ke Ekonomi Syariah. Sejalan dengan itu, MUI Sulawesi Selatan telah membuat tema besar dalam Rakerdanya yang berlangsung pada 10-11 Februari di Makassar, yaitu Ekonomi Islam; tantangan, harapan dan perannya dalam rangkaian napak tilas menuju ekonomi umat Islam yang lebih prospektif. Hal ini secara realistik, tekad 2007 itu bukanlah sesuatu yang bombastis dan bukan pula sesuatu yang unprediktibel, melainkan sebuah semangat yang masih perlu dicermati secara bijak (bil-hikmah) dengan senantiasa menyandarkan pada kehendak/iradah Allah swt.



Pengalaman menunjukkan, Fatwa MUI di awal 2004 tentang haramnya bunga seperti riba, diasumsikan akan mendongkrak posisi bank syariah menjadi lebih 2 persen pada 2005 dan 2006, bahkan pada 2008 nanti, aset perbankan syariah ditargetkan menyentuh angka 5,25 persen dari seluruh aset perbankan nasional. Namun apa yang terjadi, hingga dua tahun usia dari fatwa itu, posisi bank syariah masih 1,56 persen pada awal 2007. Jurus baru berupa program office channeling, yang diasumsikan juga akan mendongkrak, juga belum menggembirakan.



Semangat perjuangan memang sudah luar biasa, namun jika prediksi-prediksi tersebut dihubungkan dengan karakter dasar ekonomi Islam, justru menggelitik adanya. Asumsi-asumsi berbau konvensional memang masih sulit dibersihkan dalam jiwa pelaku ekonomi Islam. Karena itu, perkembangan ekonomi Islam di tanah air di satu sisi memang mengalami perkembangan pesat terutama jika dipandang dari sudut ilmu ekonomi, yang melulu selalu diukur dengan keberhasilan meraih target-target market, indikator-indikator ekonomi sangat dominan adanya, padahal pada sisi lainnya ekonomi Islam merupakan sebuah sistem yang multidimensional yang keberhasilannya tidak cukup hanya diukur satu indikator saja, seperti yang ditampilkan setiap saat.



* Relevansi Sosio-kultural



Perkembangan ekonomi syariah sama sekali tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosio-kultural masyarakat, sebagai tempat di mana sistem ekonomi syariah itu bercokol dan dikembangkan. Memang antara dimensi ekonomi dan dimensi sosial hanya dapat dibedakan tetapi tidak mungkin dipisahkan, kebutuhan ekonomi memang melekat secara kodrati demikian pula aspek sosio-kultural juga sesuatu yang hakiki bagi kehidupan.



Pada umumnya sistem ekonomi bukan lahir dengan sendirinya melainkan buah dari proses interaksi yang evolusioner dari sebuah komunitas, misalnya sistem ekonomi liberal lahir dari sebuah komunitas yang berideologi liberal pada abad ke-16. Sistem sosialis juga demikian, lahir dari sebuah komunitas yang mencoba mencari alternatif karena adanya ketimpangan-ketimpangan implikatif dari sistem liberal itu.



Sistem ekonomi Islam tidak demikian halnya, dia tidak lahir secara evolusi dari sebuah komunitas melainkan bersumber dari wahyu ilahi yang diturunkan kepada seluruh komunitas seisi dunia ini. Misi yang diemban sistem ini tidak lain adalah agar memberikan kemaslahatan lahir dan batin bagi seluruh manusia dan alam semesta. Jika demikian adanya, berarti bangunan-bangunan sosiologis mendahului terbentuknya sistem ekonomi syariah yang dimulai nanti pada abad ke-6 Masehi, juga harus disikapi secara selektif, bil-hikmah dan islami.



Perlu dipahami secara bijak bahwa Dinul Islam di dalamnya melahirkan sistem ekonomi Islam diturunkan bukan untuk memberangus potensi-potensi kehidupan yang sudah ada, melainkan untuk memberikan ‘renaisance’ atau pencerahan kehidupan agar mengarah ke shirathal mustaqiem keluar dari ghairil maghdubi alaihim. Islam akan memberikan kemaslahatan hidup dan menjauhkan segala kemudharatan bagi semua makhluk di dunia ini. Dengan demikian praktik-praktik dagang yang pernah ada atau masih berlangsung ketika Islam diturunkan tidak serta-merta dieliminasi atau diganti dengan model berdagang yang pure islami.



Praktik-praktik dagang yang sahih tetap dipertahankan bahkan diperagakan langsung oleh Muhammad sebelum dinobatkan sampai setelah diangkat menjadi Rasulullah saw, yakni menjadi saudagar yang sukses, jujur, visioner, kreatif dan transparan, tidak saja menekankan pendekatan keuntungan melainkan lebih mengutamakan pendekatan proses, kemitraan, dan ta’awun. Sebaliknya pola perilaku perdagangan yang tidak sahih (fasid) terus dieliminasi dan dinyatakan tidak sesuai dengan syariah seperti praktik riba, maysir (perjudian, gharar, tadlis, dan iktinaz (penimbunan), dan tindakan batil lainnya.



Menyikap relasi sistem-sistem ekonomi yang ada dengan sistem ekonomi Islam telah melahirkan sejumlah pandangan, yaitu (1) mazhab iqtishad yang dipelopori Muhammad Baqir as-Sadr dalam bukunya Iqtishaduna, menegaskan tidak ada kompromi dan korelasi antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi konvensional, karena secara hakikat dan filosofis, sangat kontradiktif. Ekonomi Islam harus dibangun berdasarkan Alquran dan as-Sunnah dan seterusnya, dan tidak ada korelasinya dengan teori-teori ekonomi dunia yang konvensional itu.



(2) Mazhab mainstream antara lain ditokohi oleh Umar Chappra yang menyatakan bahwa sistem ekonomi konvensional tidak serta-merta harus dibuang karena di dalamnya juga banyak hal-hal yang relevan dengan sistem ekonomi Islam, pendekatan akomodatif dan selektif penting adanya sepanjang tidak kontradiktif dengan syariah Islam. (3) Mazhab kritis ditokohi oleh Timur Kuran (California) mengkritisi kedua mazhab sebelumnya, sistem ekonomi Islam dan sistem ekonomi konvensional harus dikritisi, karena teori ekonomi Islam berbeda dengan ajaran Islam yang selalu benar tetapi semua teori ekonomi apapun belum tentu kebenarannya karena itu harus selalui diuji dan dikritisi termasuk teori ekonomi Islam itu sendiri (lihat Adiwarman K, 2002 : 16).



Memosisikan ekonomi Islam di tengah belantara sistem-sistem ekonomi konvensional merupakan satu di antara sejumlah masalah yang masih menyelimuti sistem ekonomi Islam saat ini di tanah air. Realitas-objektifnya menyatakan masih 99 persen praktisi ekonomi syariah ditransformasi dari ‘rumah’ yang konvensional setelah dilakukan proses-proses ‘modifikasi’ dan ‘pemolesan’ sana-sini. Bukan hanya SDM-nya seperti demikian, malah produk-produknya pun berupa modifikasi-modifikasi dari yang konvensional dikondisikan dengan frame syariah.



Akhirnya, tidak sedikit terjadi ‘penampakan’ berupa profil dan performingnya tampak sangat syariah tetapi substansinya masih konvensional. Belum lagi yang terkondisikan oleh situasi yang ‘demam syariah’ akibat booming ekonomi syariah dengan dipengaruhi oleh teori ekonomi yang harus merebut pangsa secepat mungkin, maka terjadilah perilaku simbolistik yang penting pandai berbaju gamis/koko, berjenggot, jidat dihitamkan, kopiah, terjustifikasilah sebagai ahli dan praktisi yang betul-betul murni syariah, maka wajar jika muncul prediksi-prediksi yang cenderung mengabaikan iradah Tuhan.



* Orientasi Pengembangan



Fenomena tersebut merupakan pertanda baik, namun perlu disikapi agar tidak menggerogoti perkembangan ekonomi Islam itu sendiri. Sebagai sebuah mazhab ekonomi yang akan membentuk perilaku laten dan diharapkan mengkristal di dalam jiwa dan sanubari pelakunya, merupakan derivasi nilai imaniah atas ajaran Islam yang diyakininya. Karena hanya di sinilah mulainya ketika kita akan melihat perbedaannya yang hakiki dengan sistem-sistem konvensional.



Nilai ilahiyah merupakan sesuatu yang bersifat transendental yang menduduki posisi tertinggi dalam praktik ekonomi syariah, sebagai tempat penyandaran segala bentuk aktivitas ekonomi yang melebihi rasio yang diagung-agungkan dalam sistem-sistem lainnya. Sementara sejumlah prinsip antara lain profesionalitas, akuntabilitas, responsibiltas, prediktibilitas, visibilitas, transparansi, dan seterusnya memiliki banyak kesamaan dengan ekonomi Islam bahkan aplikasinya sudah lebih jauh kemajuannya dalam sistem-sistem konvensional.



Mencermati fenomena demikian itu, semakin tampaklah perlunya pendekatan secara multidimensional terhadap ekonomi Islam. Tentunya, sangat tidak proposional jika hanya dipandang dari sudut ilmu ekonomi dengan sejumlah indikator yang tiada lain hanya bermuara pada bagaimana memenuhi target-target market, meraih keuntungan semaksimal mungkin, serta bagaimana meraih kesempatan seluas-luasnya.



Pertumbuhan praktis ekonomi syariah yang tergambar saat ini menampakkan kecenderungan satu arah, yaitu pada pengembangan institusional yang menempatkan seolah-olah praktik ekonomi syariah hanya terpusat pada adanya institusi ekonomi syariah, yaitu antara institusi ekonomi syariah dengan nasabah atau sebaliknya, dan atau dengan institusi lainnya. Secara historis, kecenderungan ini sebenarnya tidak seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah yang ketika itu lebih banyak dilakukan secara perorangan dan kerja sama antar-perorangan, seperti ketika Muhammad bermitra dengan Khadijah.



Dampak langsung dari kecenderungan tersebut, menyebabkan seolah-olah ekonomi syariah tidak mengatur praktik ekonomi secara individual, misalnya seorang pedagang dengan modal dan manajemen sendiri dan tidak perlu berurusan dengan institusi ekonomi (Bank, BPRS, BMT, LKS) termasuk institusi ekonomi syariah sekalipun.



Pelaku seperti ini hampir tidak terkena sentuhan-sentuhan teori ekonomi syariah yang tazkiyah ini. Padahal jumlah mereka jauh lebih banyak terutama di sektor riil dan golongan ekonomi menengah ke bawah. Akibatnya tidak susah menemukan di pasar-pasar tradisional rentenir-rentenir dan pada umumnya pengusaha perorangan (jihbiz) seperti itu berstatus haji mungkin juga sekaligus pengurus masjid. (**)
Member Log: irsyadi




More Berita
Temu Alumni SMAN 3 TAKALAR
2019-08-15 03:40:39
Tenaga Sukarela Tunggu Dua Tahun untuk jadi Honorer
2019-08-18 01:26:19
Pejabat Eselon II Takalar Direshuffle
2019-08-16 01:06:09
Bupati Takalar Dilantik 21 Desember 2007
2019-08-14 01:39:50
Ketua DPC PPP Takalar Ditahan
2019-08-19 05:46:58
Ratusan Massa Hadiri Sidang Kasus Pilkada Takalar
2019-08-19 05:45:39
Panwas Sulsel Bahas Segel Rekap Suara Takalar
2019-08-19 05:44:58
Anggota KPU Takalar ke Jakarta
2019-08-19 05:44:14
Puluhan Pejabat Takalar ke Purworejo
2019-08-19 05:53:06
Tiga Cabup Tolak Hasil Pilkada Takalar
2019-08-19 05:46:02

Untitled Document
    Copyright © 2007 by Team Info Takalar dan Yayasan Al-Muttahid. All Right Reserved
  Design and Develop by Irsyadi Siradjuddin
  Hosting MWN