2019 :: Home :: Buku tamu :: Webmail :: Sitemap :: The Team ::
Takalar Ta
Berita Daerah
DPRD Takalar
Studi Banding
Wirausaha
Ekonomi Syariah
Pustaka
Cuci Otak
Info Pasar
Opini
Demo
Beasiswa
Lowongan Kerja
Jaringan Web
Pengaduan
Takalar Angka
Takalar Peta

Contact Us
Redaksi
Kota Takalar

Email
redaksi@infotakalar.com

Telepon (Hunting)
Irsyadi 0812 4280001

Cuci Otak

Awas..kita makan sampah!!
2019-10-21 14:54:54- Sumber: Ahmad Kasang - Di Baca 1161 Kali

Hayoo..mulai ' belajar ' masak dari sekaraaaaang...



Hindari makanan siap saji..terutama ibu2 yang punya balita yang ' menggampangkan ' lunch box anak2 sekolah dengan aneka nugget..:-)



Subject:Petaka Sodom dan Gomora



Petaka Sodom dan Gomora

Oleh: F Rahardi



Flu burung (avian influenza, AI) tiba-tiba menjadi hantu yang sama
menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari Sodomdan Gomora modern.



Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus
menantang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan hanya sekadar
restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.



Flu sebenarnya merupakan penyakit lama. Adatiga tipe virus influenza:
tipe A yang bisa menyerang hewan maupun manusia dan tipe B serta C
yang hanya bisa menyerang manusia. Virus tipe A masih terdiri atas
beberapa subtipe, yakni H (1-15) dan N (1-9). AI sendiri sudah
terdeteksi sejak 1978 di Italia, tetapi AI subtipe baru dengan virus
H5N1 pertama kali terdeteksi di Hongkong tahun 1997. Sejak itu, flu
burung menjadi mirip AIDS, menimbulkan gejolak atas bisnis
perunggasan, sekaligus mengancam hidup manusia.



Ketika AI menyerang unggas, virus ini belum menjadi wabah yang
mendunia. Agroindustri perunggasan lalu menjadi massal dan mendunia,
dengan benih (DOC/DOD), pakan, hormon pertumbuhan, antibiotik, dan
obat-obatan dalam dosis tinggi secara intensif. Inilah pemicu utama
terciptanya virus subtipe baru. Terlebih setelah agroindustri
peternakan hanya mementingkan keuntungan, tanpa memikirkan dampak
negatif yang ditimbulkan.



Wabah sapi gila di Inggris juga kutukan. Virus penyakit gila ini
sebenarnya hanya berjangkit pada domba, dan tidak pernah menjadi
wabah. Namun, agroindustri peternakan di Inggris terlalu rakus. Limbah



dari rumah potong hewan, terutama tulang-tulang-terdiri tulang domba,
kambing, sapi, babi, dan ternak lain-digiling dan dicampurkan ke
konsentrat. Tujuannya adalah efisiensi. Dampaknya, terjadi degradasi
genetik dan penularan penyakit. Penyakit gila yang sebelumnya hanya
menyerang domba berjangkit pula ke sapi.



"Nuggets" dan sosis tulang



Pada agroindustri perunggasan, terutama ayam petelur, yang akan
dipelihara hanyalah DOC betina. DOC jantan harus dibuang. Jika DOC
jantan diberikan kepada ikan, dampak negatifnya hampir tidak ada.
Namun sekali lagi demi efisiensi, DOC jantan langsung dimasukkan ke
penggilingan dan dicampurkan ke pakan. "Kanibalisme" inilah antara
lain yang telah mengakibatkan degradasi genetik, sekaligus ikut
berperan memicu terciptanya virus AI subtipe baru.



Namun itu semua belum terlalu mengerikan. Kini, tampaknya konsumen
kurang jeli melihat (atau tidak menduga) sosis (sapi dan ayam),
nuggets (ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan
dari daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan
hewan dan rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa
tulang keras, tulang rawan, sumsum, urat, dan sedikit daging yang
masih melekat. Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut MBM atau meat
and bone meal. Ini merupakan bahan campuran industri pakan ternak,
termasuk unggas.



Tulang rawan, urat, sumsum, dan daging disebut meat and debone meal
(MDM). Produk inilah yang semula menjadi bahan campuran industri
sosis, kornet, dan nuggets. Kini, MDM menjadi bahan utama makanan
pabrik itu. Terlebih dalam sosis ayam. Yang dimaksud MDM unggas
sebenarnya semua limbah ayam digiling, sebab sekeras apa pun tulang
ayam masih amat lunak untuk menjadi sosis dan nuggets. Kita tidak
pernah diberi tahu oleh Asosiasi Produsen Makanan Olahan Daging
(National Association Meat Producer = NAMPA), berapa persen sebenarnya



kandungan MDM pada tiap sosis dan nuggets. Jangan-jangan sudah 100
persen.



Pola industri ternak seperti ini sebenarnya sudah melawan hukum alam,
sekaligus hukum Allah. Sapi dan domba aslinya herbivora. Dalam
industri modern mereka dipaksa menjadi karnivora, bahkan kanibal.
Unggas makan biji-bijian dan kadang serangga serta cacing. Tetapi
mereka tidak pernah kanibal. Bahkan elang dan gagak yang karnivora pun



tidak pernah kanibal. Tetapi manusia telah memaksa ayam dan itik
menjadi kanibal. Bahkan DOC, anak ayam yang baru menetas pun, harus
kembali digiling untuk dimakan oleh induk-induk mereka. Ini sudah
lebih sadis dibanding kisah Sodom dan Gomora.



Limbah dari AS



Rakyat AS relatif cerdas dalam melihat "penyimpangan" atas hukum alam
ini. Selain cerdas, mereka kaya. Itu sebabnya mereka tidak menyantap
bagian lain dari ayam, kecuali daging dada. Kulit, daging paha, daging
sayap, hati, ampela, tabu disantap. Apalagi kepala, leher, pantat, dan
ceker. Semua itu harus dibuang. Lembaga konsumen AS juga ketat hingga
limbah itu tidak bisa digiling begitu saja dan dijadikan pakan. Kasus
sapi gila di Inggris membuat rakyat AS lebih waspada.



Ke manakah limbah yang masih layak makan itu dibuang? Tentu ke negara
yang penduduknya banyak dan ekonominya lemah. Sasaran utama membuang
paha dan sayap ayam adalah RRC, India, dan Indonesia. MDM hasil
penggilingan limbah unggas juga dibuang ke negara berkembang dan
negara miskin. Untuk sarana pembuangan, kota-kota besar di negara
berkembang siap dengan restoran cepat saji dan pasar swalayan. Saat
memungut sosis ayam dan nuggets, ibu-ibu pasti tak pernah
membayangkan, bahan utama produk itu bukan daging, tetapi limbah.



Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri perunggasan
tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang. Kelembagaan
peternakan rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya alokasi modal
dan fasilitas lain tidak pernah tertuju ke mereka, sebab mereka bukan
pengusaha yang punya kapling dalam Gabungan Perusahaan Perunggasan
Indonesia (Gappi). Jika para peternak itik yang sudah massal pun tak
tersentuh perhatian pemerintah, ayam kampung lebih tak terperhatikan
lagi. Rakyat memang harus tabah dalam menerima petaka Sodom dan Gomora
Member Log: irsyadi




More Berita
Temu Alumni SMAN 3 TAKALAR
2019-10-21 23:20:25
Tenaga Sukarela Tunggu Dua Tahun untuk jadi Honorer
2019-10-21 17:08:38
Pejabat Eselon II Takalar Direshuffle
2019-10-20 12:21:56
Bupati Takalar Dilantik 21 Desember 2007
2019-10-22 21:53:52
Ketua DPC PPP Takalar Ditahan
2019-10-23 18:15:04
Ratusan Massa Hadiri Sidang Kasus Pilkada Takalar
2019-10-23 18:10:00
Panwas Sulsel Bahas Segel Rekap Suara Takalar
2019-10-23 18:09:05
Anggota KPU Takalar ke Jakarta
2019-10-23 18:08:07
Puluhan Pejabat Takalar ke Purworejo
2019-10-23 18:23:50
Tiga Cabup Tolak Hasil Pilkada Takalar
2019-10-23 18:10:26

Untitled Document
    Copyright © 2007 by Team Info Takalar dan Yayasan Al-Muttahid. All Right Reserved
  Design and Develop by Irsyadi Siradjuddin
  Hosting MWN